Renungan Pagi 20 April 2013 (Kabar Baik dari Patmos)

Kabar baik dari Patmos“Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu BERDIRI SEEKOR ANAK DOMBA SEPERTI TELAH DISEMBELIH, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi” (Wahyu 5:6).

Dua belas tahun terakhir, saya sering bepergian ke Timur Tengah. Di awal masa-masa itu, anak perempuan saya yang tertua memilih untuk dibabtiskan di Sungai Yordan. Saat itu sangat istimewa, walaupun mungkin bukan itu tempat di mana Yohanes membabtiskan banyak orang.

Beberapa tahun kemudian, anak perempuan bungsu saya mulai menunjukkan ketertarikan kepada babtisan. Saya ingatkan dia atas babtisan yang dialami kakaknya. Saya berpikir, dia pasti akan mencari ide yang lebih hebat daripada kakaknya. Akhirnya dia berkata, “Saya mau dibabtiskan di Laut Merah, di tempat orang Israel menyebrang dulu. “Saya rasa dia tidak tahu bahwa, Paulus menghubungkan perjalanan menyeberangi Laut Merah dengan babtisan Kristen dalam 1 Korintus 10:1-4.

Ahli arkeologi ternyata tidak terlalu yakin di mana tepatnya bangsa Israel melakukan perjalanan penyeberangan mereka. Beberapa bahkan mengatakan bahwa mereka bukan menyeberangi Laut Merah (Red Sea), tetapi “lautan alang-alang (sea of reeds),” yang dapat ditemukan di sebuah danau di sebelah utara Laut Merah dekat Suez sekarang ini. Alkitab mengatakan, bangsa Israel terkurung di antara gunung di sebelah kanan dan laut di sebelah kiri mereka (Kel. 14:1-4). Pantai Ain Sukhna di Mesir memiliki deskripsi yang cocok dengan penjelasan ini. Dan akhirnya beberapa teman dan saya membawa anak perempuan saya ke sana dan membabtiskannya pada musim panas 2001.

Kitab Wahyu mendorong orang-orang Kristen untuk menjadikan kisah perjalanan bangsa Israel sebagai contoh dalam tindakan dan pengalaman masa kini. Anak Domba yang disembelih dalam Wahyu 5, mengingatkan kita kepada Bait Suci orang Yahudi dan segala korban bakarannya. Malapetaka yang dalam Kitab Wahyu adalah mengambil contoh dari tulah yang terjadi di Kerajaan Mesir kuno. Bahwa dara Domba Paskahlah yang melindungi bangsa itu dari tulah yang paling hebat. Dengan cara yang sama, darah Yesus juga melindungi umat-Nya dari penghakiman Tuhan kepada manusia (Why. 7:3; 12:11). Sebagaimana Israel menjadi imamat yang rajani di Gunung Sinai, maka demikian juga para pengikut Yesus adalah imamat yang rajani yang berasal dari berbagai suku, bahasa, kaum, dan bangsa (Why. 5:9,10).

Kitab Keluaran adalah teladan bagi kehidupan orang Kristen masa kini. Dan kisah Keluaran kita masing-masing terjadi ketika kita menguburkan diri kita yang lama dengan babtisan dan kemudian bangkit dengan hidup yang baru (Rm. 6:3,4).

Tuhan, terimakasih atas hidup baru yang Engkau berikan kepadaku melalui kematian Yesus di kayu salib.

Bagi teman-teman yang ingin menaruh maupun menyalin artikel ini ke blog maupun media elektronik lainya, harap mencantumkan sumbernya, gunakan etika berinternet, terima kasih. Salam ivonidiego

About ivonidiego
You = What You Do

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: